PERKEMBANGAN BAHASA PESERTA DIDIK USIA SEKOLAH MENENGAH (REMAJA)

BAB I

PENDAHULUAN

 A.   Latar Belakang

Bahasa merupakan alat komunikasi bagi manusia tanpa bahasa seseorang tidak dapat menyampaikan sesuatu kepada orang lain. bahasa juga merupakan sarana untuk bergaul. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seorang (bayi anak) dimulai dengan meraba dan diikuti dengan bahasa satu  suku kata, menyusun kalimat sederhana dan seterusnya melakukan sosialisasi dan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial.

Perkembangan bahasa selalu terkait dengan perkembangan kognitif yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Seseorang yang tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana, bahasa yang digunakannya juga sangat sederhana.

B.   Tujuan

Sesuai dengan fungsinya, bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain. Hal ini akan mempengaruhi perkembangan bahasa oleh karena itu, setelah membaca dan mempelajari makalah ini maka diharapkan para pembaca bisa memahami :

1)      Pengertian perkembangan bahasa

2)      Karakteristik perkembangan bahasa remaja

3)      Faktor-faktor  yang mempengaruhi perkembangan bahasa

4)      Pengaruh kemampuan berbahasa terhadap kemampuan berpikir

5)      Perbedaan individual dalam kemampuan dan perkembangan bahasa

6)     Upaya pengembangan kemampuan bahasa remaja dan implikasinya dalam penyelenggaraan pendidikan.

 

C.      Rumusan Masalah

Dari  berbagai referensi yang telah dikumpulkan oleh penulis maka dapat dibuatkan rumusan-rumusan masalah sebagai berikut

1)      Pengertian perkembangan bahasa

2)      Faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perkembangan bahasa

3)      Perbedaan individual dalam kemampuan dan perkembangan bahasa

4)      Pengaruh kemampuan berbahasa terhadap kemampuan berfikir.


BAB II

PEMBAHASAN

 A.       Pengertian Perkembangan Bahasa

Menurut Hurlock (h. 2, 1980) perkembangan adalah serangkaian perubahan progresif yang terjadi akibat dari proses kematangan dan pengalaman. Sedangkan menurut Santrock (h. 20, 2002) perkembangan adalah pola gerakan atau perubahan yang dimulai dari pembuahan dan terus berlanjut sepanjang siklus kehidupan.

Dalam Wikipedia Bahasa Indonesia, bahasa adalah penggunaan kode yang merupakan gabungan fonem sehingga membentuk kata dengan aturan sintaks untuk membentuk kalimat yang memiliki arti. Sedangkan menurut Keraf dalam Smarapradhipa (2005:1), memberikan dua pengertian bahasa. Pengertian pertama menyatakan bahasa sebagai alat komunikasi antara anggota masyarakat berupa simbol bunyi yang dihasilkan oleh alat ucap manusia. Kedua, bahasa adalah sistem komunikasi yang mempergunakan simbol-simbol vokal (bunyi ujaran) yang bersifat arbitrer.

Sesuai dengan fungsinya,  bahasa merupakan alat komunikasi yang digunakan oleh seorang dalam pergaulannya atau hubungannya dengan orang lain.  Bahasa merupakan alat bergaul. Oleh karena itu penggunaan bahasa menjadi efektif sejak seorang individu memerlukan berkomunikasi dengan orang lain. Sejak seorang bayi mulai berkomunikasi dengan orang lain, sejak itu pula bahasa  diperlukan. Sejalan dengan perkembangan hubungan sosial, maka perkembangan bahasa seorang (bayi anak) dimulai dengan meraban (suara atau bunyi tanpa arti) dan diikuti dengan bahasa atau suku kata, dua suku kata, menyusun kalimat sederhana dan seterusnya melakukan sosialisasi dengan menggunakan bahasa yang kompleks sesuai dengan tingkat perilaku sosial.

Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa. Bayi yang tingkat intelektualnya belum berkembang dan masih sangat sederhana, bahasa yang digunakannya juga sangat sederhana. Semakin bayi itu tumbuh dan berkembang serta mulai mampu memahami lingkungan, maka bahasa mulai berkembang dari tingkat yang sangat sederhana menuju ke bahasa yang kompleks. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh lingkungan, karena bahasa pada dasarnya merupakan hasil belajar dari lingkungan. Anak (bayi) belajar bahasa seperti halnya belajar hal yang lain, meniru dan mengulang hasil yang telah didapatkan merupakan cara  belajar bahasa awal. Bayi bersuara, ‘mm  mmm’, ibunya tersenyum mengulang menirukan dengan memperjelas dan memberi arti suara itu menjadi ‘maem-maem’. Bayi belajar menambah kata-kata dengan meniru bunyi-bunyi yang didengarnya. Manusia dewasa (terutama ibunya) disekelilingnya membetulkan dan memperjelas. Belajar bahasa yang sebenarnya baru dilakukan oleh anak berusia enam sampai tujuh tahun, disaat anak mulai bersekolah. Jadi  perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan penguasaan alat berkomunikasi, baik alat komunikasi dengan cara lisan, tertulis, maupun menggunakan tanda-tanda dan isyarat. Mampu dan menguasai alat komunikasi di sini diartikan sebagai upaya seseorang untuk dapat memahami dan dipahami orang lain.

Kesimpulan : Oleh Qutratun Nada

Bahasa memegang peranan penting dalam kehidupan bermasyarakat. Karena tanpa bahasa seseorang tidak akan dapat menyampaikan sesuatu kepada orang lain. Bahasa disampaikan melalui kegiatan yang dinamakan bicara.

  1. Bicara adalah salah satu dari sekian banyak bentuk bahasa, tetapi paling berguna dan paling luas digunakan. Bicara juga merupakan keterampilan yang paling sulit dikuasai karena aspek mentalnya.
  2. Jika bicara diharapkan dapat menjadi bentuk komunikasi yang sangat berguna, maka pembicara harus menggunakan kata yang berarti bagi orang lain dan harus pula mampu memahami arti kata yang digunakan orang lain.
  3. Bicara turut mempengaruhi penyesuaian sosial dan pribadi anak dengan memasuki kebutuhan dan keinginan mereka, dengan memperoleh perhatian dari orang lain, dengan memperlancar hubungan sosial
  4. Sebelum anak secara fisik dan mental siap belajar berbicara, alam menyediakan empat bentuk komunikasi penanti sementara bagi mereka seperti tangisan, isyarat, celoteh, dan ungkapan emosional. Dalam jangka panjang, celoteh adalah bentuk komunikasi prabicara yang paling penting karena menyediakan dasar berbicara.
  5. Dalam belajar berbicara terdapat enam hal penting yaitu : kesiapan fisik, kesiapan mental, model yang baik untuk ditiru, dan kesempatan untuk berbicara.
  6. Dalam belajar berbicara ada tiga tugas pokok yaitu : membangun kosakata, mengaitkan arti dengan kata, dan belajar mengucapkan kata.
  7. Bicara anak mungkin egosentrik, yakni anak berbicara mengenai dirinya sendiri atau sosial yakni berbicara mengenai orang lain, kegiatan, dan minat mereka
  8. Bahaya yang paling umum dalam perkembangan bicara adalah tangis yang berlebihan, kesulitan pemahaman, bicara cacat, kerancuan bicara, kedwibahasaan, kesulitan berkomnikasi.
  9. Keterlambatan berbicara berarti bahwa pola bicara dibawah norma umur anak; bicara cacat berarti kemampuan berbicara yang secara kualitatif berada dibawah norma untuk anak umur tersebut karena kesalahan belajar; dan kerancuan bicara adalah cacat dalam pengucapan yang serius bukan karena kesalahan belajar, tetapi karena cacat dalam mekanisme suara atau ketegangan emosional yang melekat.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa perkembangan bahasa adalah meningkatnya kemampuan berkomunikasi dengan orang lain dengan menyampaikan makna kepada orang lain dalam berbagai bentuk komunikasi, baik melalui perkataan, tulisan maupun ekspresi.

B.        Karakteristik Perkembangan Bahasa  Remaja

Bahasa remaja adalah bahasa yang telah berkembang ia telah banyak belajar dari lingkungan, dan dengan demikian bahasa remaja terbentuk dari kondisi lingkungan. Lingkungan remaja mencakup lingkungan keluarga, masyarakat dan khususnya pergaulan teman sebaya, dan lingkungan sekolah. Pola bahasa yang dimiliki adalah bahasa yang berkembang di dalam keluarga atau yang disebut bahasa ibu.

Perkembangan bahasa remaja dilengkapi dan diperkaya oleh lingkungan masyarakat di mana mereka tinggal. Hal ini berarti pembentukan kepribadian yang dihasilkan dari pergaulan masyarakat sekitar akan memberi ciri khusus dalam perilaku bahasa. Bersamaan dengan kehidupannya di dalam masyarakat luas, anak (remaja) mengkutip proses belajar disekolah. Sebagaimana diketahui, dilembaga pendidikan diberikan rangsangan yang terarah sesuai dengan kaidah-kaedah yang benar. Proses pendidikan bukan memperluas dan memperdalam cakrawala ilmu pengetahuan semata, tetapi juga secara berencana merekayasa perkembangan sistem budaya, termasuk perilaku berbahasa. Pengaruh pergaulan di dalam masyarakat (teman sebaya) terkadang cukup menonjol, sehingga bahasa anak (remaja) menjadi lebih diwarnai pola bahasa pergaulan yang berkembang di dalam kelompok sebaya. Dari kelompok itu berkembang bahasa sandi, bahasa kelompok yang bentuknya amat khusus, seperti istilah baceman dikalangan pelajar yang dimaksudkan adalah bocoran soal ulangan atau tes. Bahasa prokem terutama secara khusus untuk kepentingan khusus pula.

Bahasa prokem adalah ragam http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_Indonesia”>bahasa Indonesia nonstandar yang lazim digunakan di Jakarta pada tahun 1970-an yang kemudian digantikan oleh ragam yang disebut sebagai bahasa gaul. Bahasa prokem ditandai oleh kata-kata Indonesia atau kata dialek Betawi yang dipotong dua fonemnya yang paling akhir kemudian disisipi bentuk -ok- di depan fonem terakhir yang tersisa. Misalnya, kata bapak dipotong menjadi bap, kemudian disisipi -ok- menjadi bokap. Diperkirakan ragam ini berasal dari bahasa khusus yang digunakan oleh para narapidana. Seperti bahasa gaul, sintaksis dan morfologi ragam ini memanfaatkan sintaksis dan morfologi bahasa Indonesia dan dialek Betawi.

Dalam berkomunikasi sehari-hari, terutama dengan sesama sebayanya, remaja seringkali menggunakan bahasa spesifik yang kita kenal dengan bahasa ‘gaul’. Disamping bukan merupakan bahasa yang baku, kata-kata dan istilah dari bahasa gaul ini terkadang hanya dimengerti oleh para remaja atau mereka yang kerap menggunakannya. Menurut Piaget (dalam Papalia, 2004), remaja memasuki tahap perkembangan kognitif yang disebut tahap formal operasional. Piaget menyatakan bahwa tahapan ini merupakan tahap tertinggi perkembangan kognitif manusia. Pada tahap ini individu mulai mengembangkan kapasitas abstraksinya. Sejalan dengan perkembangan kognitifnya, perkembangan bahasa remaja mengalami peningkatan pesat. Kosakata remaja terus mengalami perkembangan seiring dengan bertambahnya referensi bacaan dengan topik-topik yang lebih kompleks. Menurut Owen (dalam Papalia, 2004) remaja mulai peka dengan kata-kata yang memiliki makna ganda. Mereka menyukai penggunaan metaphora, ironi, dan bermain dengan kata-kata untuk mengekspresikan pendapat mereka. Terkadang mereka menciptakan ungkapan-ungkapan baru yang sifatnya tidak baku. Bahasa seperti inilah yang kemudian banyak dikenal dengan istilah bahasa gaul. Disamping merupakan bagian dari proses perkembangan kognitif, munculnya penggunaan bahasa gaul juga merupakan ciri dari perkembangan psikososial remaja. Menurut Erikson (1968), remaja memasuki tahapan psikososial yang disebut sebagai identity versus role confusion. Hal yang dominan terjadi pada tahapan ini adalah pencarian dan pembentukan identitas. Remaja ingin diakui sebagai individu unik yang memiliki identitas sendiri yang terlepas dari dunia anak-anak maupun dewasa. Penggunaan bahasa gaul ini merupakan bagian dari proses perkembangan mereka sebagai identitas independensi mereka dari dunia orang dewasa dan anak-anak.

Pengaruh lingkungan yang berbeda antara keluarga  masyarakat, dan sekolah dalam perkembangan bahasa, akan menyebabkan perbedaan antara anak yang satu dengan yang lain. Hal ini ditunjukkan oleh pilihan dan penggunaan kosakata  sesuai dengan tingkat sosial keluarganya. Keluarga dari masyarakat lapisan pendidikan rendah atau buta huruf, akan banyak menggunakan bahasa pasar, bahasa sembarangan, dengan istilah-istilah yang kasar. Masyarakat terdidik  yang pada umumnya memiliki status sosial lebih baik, menggunakan istilah-istilah lebih selektif dan umumnya anak-anak remajanya juga berbahasa lebih baik.

Kesimpulan : Oleh Rozi Setiawan

Telah disebutkan bahwa bahasa remaja diperkaya dan dilengkapi oleh lingkungan sekitar tempat mereka tinggal. Remaja cenderung bergaul dengan sesamanya, yaitu remaja usia sekolah. Dari pergaulan dengan teman sebaya ini, kemudian timbul gaya atau pola bahasa yang mereka gunakan sebagai sarana dalam proses penyampaian atau sosialisasi. Bahasa yang cenderung digunakan oleh remaja ini, yaitu bahasa praktis, sehingga lebih mempermudah dalam proses sosialisasi tersebut. Bahasa seperti ini sering disebut sebagai “Bahasa Gaul”.

Bahasa pergaulan ini bertujuan untuk memberikan ciri khas atau identitas tertentu dalam pergaulan sesama remaja. Terkadang, bahasa ini mereka bawa ke dalam lingkungan sekolah, sehingga menyebabkan Guru/Pendidik kadang-kadang kebingungan dengan kondisi siswa-siswanya yang berbahasa tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia yang benar.

Selain pergaulan teman sebaya, status sosial ekonomi keluarga juga memiliki andil dalam mempengaruhi pola atau gaya bahasa remaja. Keluarga terdidik yang pada dasarnya telah membawa kebiasaan-kebiasaan terdidik, baik dari latar belakang pendidikan maupun latar belakang keluarganya, secara langsung telah mempengaruhi cara berpikir dan berbahasa anak remajanya. Mereka biasanya menggunakan bahasa yang lebih sopan dan fleksibel. Fleksibel disini, dimaksudkan bahwa saat remaja berinteraksi dengan teman sebayanya, mereka memiliki gaya dan kosakata yang sesuai. Begitu pula sebaliknya, saat mereka berhadapan dengan orang dewasa, mereka juga punya cara tersendiri yang tentunya lebih sopan. Sedangkan remaja yang berasal dari keluarga kurang terdidik, umumnya menggunakan bahasa yang kasar, tidak terstruktur dan tidak fleksibel. Hal ini disebabkan oleh minimnya pengetahuan orang tua akan pola perkembangan anak-anaknya, khususnya perkembangan bahasanya.

Dari uraian diatas, dapat disimpulkan bahwa bahasa remaja sangat dipengaruhi oleh pergaulan dengan sesamanya. Oleh karena itu, peran lingkungan keluarga dan sekolah sangat dibutuhkan agar terdapat keseimbangan diantaranya.

C.    Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Perkembangan Bahasa

Berbahasa terkait erat dengan kondisi pergaulan. Oleh karena itu perkembangannya dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu:

a). Umur anak

Manusia bertambah umur akan semakin matang pertumbuhan fisiknya, bertambahnya pengalaman, dan meningkatnya kebutuhan. Bahasa seseorang akan berkembang sejalan dengan pertambahan pengalaman dan kebutuhannya. Faktor fisik ikut mempengaruhi sehubungan semakin sempurnanya pertumbuhan organ bicara, kerja otot-otot untuk melakukan gerakan-gerakan dan isyarat. Pada masa remaja perkembangan biologis yang menunjang kemampuan berbahasa telah mencapai tingkat kesempurnaan, dengan dibarengi oleh perkembangan tingkat intelektual, anak akan mampu menunjukkan cara berkomunikasi dengan baik.

b). Kondisi lingkungan

Lingkungan tempat anak tumbuh dan berkembang memberi andil cukup besar dalam berbahasa. Perkembangan bahasa dilingkungan perkotaan akan berbeda dengan dilingkungan pedesaan. Begitu pula perkembangan bahasa di daerah pantai, pegunungan dan daerah-daerah terpencil menunjukkan perbedaan.

Pada dasarnya bahasa  dipelajari dari lingkungan. Lingkungan yang dimaksud termasuk lingkungan pergaulan dalam kelompok, seperti kelompok bermain, kelompok kerja, dan kelompok sosial lainnya.

c). Kecerdasan anak

Untuk meniru bunyi atau suara, gerakan dan mengenal tanda-tanda, memerlukan kemampuan motorik yang baik. Kemampuan intelektual atau tingkat berpikir. Ketepatan meniru, memproduksi perbendaharaan kata-kata yang diingat, kemampuan menyusun kalimat dengan baik dan memahami atau menangkap maksud suatu pernyataan fisik lain, amat dipengaruhi oleh kerja pikir atau kecerdasan seseorang anak.

d). Status sosial ekonomi keluarga

Keluarga yang berstatus sosial ekonomi baik, akan mampu menyediakan situasi yang baik bagi perkembangan bahasa anak-anak dengan  anggota keluarganya. Rangsangan untuk dapat ditiru oleh anak-anak dari anggota keluarga yang berstatus sosial tinggi berbeda dengan keluarga yang berstatus sosial rendah. Hal ini akan tampak perbedaan perkembangan bahasa bagi anak yang hidup di dalam keluarga terdidik dan tidak terdidik. Dengan kata lain pendidikan keluarga berpengaruh terhadap perkembangan bahasa.

e). Kondisi fisik

Kondisi fisik di sini kesehatan anak. Seseorang yang cacat yang terganggu kemampuannya  untuk berkomunikasi, seperti bisu, tuli, gagap, dan organ suara tidak sempurna akan mengganggu perkembangan dalam berbahasa.

Ada dua konsepsi tradisional tentang belajar bahasa kedua yang relevan dengan pembahasan ciri-ciri siswa. Bahasa anak-anak adalah bahasa kedua yang lebih baik daripada orang dewasa.

Ada hal yang disebut ‘kepandaian khusus’ atau ‘bakat’ untuk belajar bahasa kedua, dimana tidak semua orang mempunyai tingkat yang sama, istilah umumnya “aptitude”. Hamied (1987:81).

Dengan adanya dua konsepsi ini, maka diasumsikan berdasarkan pengalaman perorangan bahwa perbedaan dalam keberhasilan belajar bahasa kedua sebagian besarnya dapat dijelaskan dengan dasar perbedaan dalam usia dan bakat.

Pada tahun 1950-an tatkala penelitian ilmiah mengenai ciri-ciri siswa dalam belajar bahasa kedua dimulai, segera menjadi jelas bahwa seperangkat ciri-ciri siswa merupakan penyebab keberhasilan atau kegagalan relatif dari belajar bahasa kedua. (Hamied, 1987:81). Kita akan membatasi pembicaraan pada pertimbangan lain yang telah diselidiki dengan lebih baik dan yang paling relevan. Pembahasan kita hanya membicarakan pertimbangan neurologikal, kognitif, dan afektif. (Brown, 2000:71).

a). Pertimbangan Neurologi

Penfield dan Roberts (1959) ahli neurologi yang berargumentasi bahwa kemempuan anak lebih besar untuk belajar bahasa dapat dijelaskan dengan plastisitas yang lebih besar dari otak anak tersebut. Plastisitas otak ditemukan berkurang manakala usia bertambah. (Hamied:82). Menurut Panfield dan Roberts (1959) menampilkan bukti bahwa anak-anak mempunyai kapasitas menonjol untuk mempelajari kembali ketrampilan bahasa setelah kecelakaan atau penyakit yang merusak bidang ujaran dalam hemisfer serebral dominan biasanya hemisfer sebelah kiri.

Orang dewasa biasanya tidak mampu memperoleh kembali ujaran normal. Terdapat banyak kasus nank-anak yang karena memperoleh luka dalam bidang ujaran, mengalihkan fungsi bahasanya ke hemisfer sebelahnya lagi. Kasus orang dewasa yang melakukan hal itu jarang terjadi. Diargumentasikan bahwa alasan untuk hal tersebut adalah hilangnya plastisitas otak.

Dalam kesimpulannya, Penfield dan Roberts menarik rekomendasi untuk pengajaran bahasa asing dari observasi ini, yaitu bahwa waktu untuk memulai apa yang mungkin disebut persekolahan umur dalam bahasa kedua, sesuai dengan tuntutan psikologi otak, adalah antara umur 4 sampai 10 tahun.

Akan tetapi Hipotesis Periode Kritis (HPK) biasanya dikaitkan dengan Lennberg (1967). Lennberg berargumentasi bahwa belajar alamiah dapat terjadi hanya selama periode kritis, secara kasarnya antara usia 2 tahun sampai masa pubertas. Sebelum usia 2 tahun, belajar bahasa tidak mungkin terjadi karena kekurang dewasaan otak. Sedangkan setelah masa pubertas lateralisasi fungsi hemisfer dominan telah selesai, yang mengakibatkan hilangnya plastisitas serebral yang diperlukan untuk belajar bahasa alamiah. Adalah periode yang secara biologis tertentu inilah yang bertanggungjawab atas kenyataan bahwa setelah masa pubertas, bahasa harus diajarkan dan dipelajari melalui usaha sadar dan keras, dan bahwa aksen asing tidak dapat diatasi dengan mudah setelah masa pubertas.

b). Pertimbangan Afektif

Manusia adalah ciptaan yang memiliki emosi. Penelitian pada area afetif pada pemerolehan bahasa kedua semakin meningkat terus-menerus selama beberapa dekade. Penelitian ini terinspirasi oleh beberapa faktor. Berikut ini adalah beberapa faktor yang mempengaruhi umur dan pemerolehan bahasa. (Brown, 2000:64-66)

c). Inhibitasi (Inhibitions)

Inibitasi adalah suatu perasaan yang membuat seseorang gugup atau malu, sehingga tidak mempu bertingkah laku secara normal. Perasaan ini muncul ketika seseorang berada pada masa remaja yakni antara umur 13 sampai 17 tahun. Pada masa ini berkembang rasa kegelisahan yang membuat mereka merasa membutuhkan perlindungan, meluapnya rasa takut, mider dan keraguan terhadap diri mereka sendiri. Pada masa ini inhibitasi semakin meningkat karena trauma atas perubahan fisik, kognitif, dan emosi. Para remaja pasti membutuhkan pembaruan total dari segi fisik, kognitif, dan emosi. Ego mereka tidak hanya dipengaruhi oleh bagaimana mereka memahami diri mereka sendiri tetapi juga bagaimana mereka meraih hal-hal yang ada diluar diri mereka, bagaimana mereka berhubungan dengan orang lain, dan bagaimana mereka menggunakan proses komunikasi yang berakibat pada perkembangan afektif.

d). Ego Bahasa

Alexander Guiora (1972) mengusulkan tentang ego bahasa (Language Ego) untuk menjelaskan identitas seseorang yang mengembangkan bahasa yang digunakan. Untuk orang-orang yang memiliki satu bahasa, ego bahasa meliputi interaksi pada bahasa ibu dan perkembangan ego. Guiora menyatakan bahwa ego bahasa dapat menjelaskan kesulitan pembelajaran bahasa kedua pada orang dewasa. Pemerolehan sebuah ego bahasa baru adalah sebuah usaha yang besar tidak hanya bagi remaja tapi juga orang dewasa yang telah tumbuh rasa aman dan nyaman pada identitas mereka dan yang memiliki inhibitasi yang bertindak sebagai perlindungan dan perlindungan bagi ego mereka. Membuat langkah pada sebuah identitas baru bukanlah hal yang mudah, hal ini bisa berhasil hanya ketika sebuah pengumpulan ego yang memperkuat untuk mengatasi inhibitasi. Hal ini memungkinkan bahwa seorang pembelajar bahasa yang berhasil adalah seseorang yang mampu menjembatani celah-celah afektif.

e). Sikap (Attitudes)

Sikap negatif dapat mempengaruhi keberhasilan dalam mempelajari bahasa. Anak-anak yang kognitifnya tidak dibangun atau dikembangkan dengan baik untuk memiliki sikap, mungkin tidak seberapa berpengaruh daripada orang dewasa. Pada anak-anak usia sekolah mulai memperoleh beberapa sikap terhadap jenis-jenis dan stereotipe orang lain. Sikap ini sebagian besar diajarkan secara sadar atau tidak sadar oleh orang tua, orang-orang dewasa, dan teman sepermainannya. Pembelajaran sikap-sikap negatif terhadap orang-orang yang memakai bahasa kedua atau terhadap bahasa kedua itu sendiri telah ditunjukkan untuk mempengaruhi keberhasilan pembelajaran bahasa pada orang-orang di usia sekolah keatas.

f). Tekanan dari kawan sebaya (Peer Pressure)

Tekanan dari kawan sebaya yang dihadapi anak-anak dalam pembelajaran bahasa, berbeda dengan yang dihadapi oleh orang dewasa. Anak-anak biasanya mempunyai paksaan yang kuat untuk menyesuaikan. Mereka diberitahu dalam kata-kata, pemikiran-pemikiran, dan tindakan-tindakan bahwa mereka seharusnya ”seperti anak-anak yang lainnya”. Seperti tekanan dari kawan sebaya terhadap bahasa. Orang dewasa juga mengalami tekanan dari kawan sebaya, namun dalam bentuk yang berbeda, orang-orang dewasa cenderung lebih menoleransi perbedaan linguistik daripada anak-anak, oleh karena itu kesalahan-kesalahan dalam ucapan lebih mudah dimaafkan. Jika orang-orang dewasa mampu memahami seorang penutur bahasa kedua, mereka akan memberikan imbalan balik kognitif dan afektif dengan positif, sebuah tingkatan toleransi yang mungkin mendorong beberapa pembelajar dewasa untuk ”lulus.”

Kesimpulan : Oleh Yana Kharisma

Bila kita mengamati perkembangan kemampuan berbahasa anak, kita akan terkesan dengan pemorelaha  bahasa anak yang berjenjang dan teratur. Pada usia satu tahun, anak mulai mengucapkan kata-kata pertamanya yang terdiri dari satu kata yang kadang-kadang tidak jelas, tetapi sesungguhnya bernakna banyak. Contoh : anak mengucapkan kata “makan”, maknanya mungkin ingin makan, sudah makan, lapar atau mungkin makanannya tidak enak, dsb.

Pada perkemnbangan berikutnya, mungkin anak sudah mengucapkan dua kata. Contoh : “mama masak”, yang maknanya dapat berarti ibu masak, ibu telah masak, atau ibu akan masak sesuatu. Demikian seterusnya hingga umur enam tahun anak telah siap menggunakan bahasanya untuk belajar di Sekolah Dasar (SD), sekaligus dengan bentuk tulisan-tulisannya.

Uraian diatas adalah contoh singkat bagaimana seorang anak menguasai bahasa hingga enam tahun. Proses anak mulai mengenal komunikasi dengan lingkungannya secara verbal itulah yang disebut dengan pemerolehan bahasa anak. Jadi pemorelehan bahasa pertama terjadi bila anak pada awal kehidupannya tanpa bahasa, kini telah memperoleh satu bahasa. Pada masa pemerolehan bahasa tersebut, bahasa anak telah mengarah pada fungsi komunikasi daripada bentuk struktur bahasanya. Anak akan mengucapkan kata berikutnya untuk keperluan komunikasinya dengan orang tua atau kerabat dekatnya.

Kemudian  pada usia lanjutan, kemampuan dasar berbahasa yang ditanamkan orang tua kepada anak akan berpadu dengan adanya pengetahuan akademik yang didapatkan sang anak pada jenjang akademik, mulai dari TK, SD, SMP, SMA dan selanjutnya Perguruan Tinggi. Tidak ada masalah dengan pengenalan etika, sistem serta tatanan pola pikir yang ditanamkan oleh para Guru serta Pengajar. Tetapi sebenarnya pengaruh-pengaruh negatif itu datangnya dari lingkup masyarakat yang tak kondusif, walaupun memang ada pada sebagian anak yang mendapatkan ajaran kuat, sehingga tak berpengaruh terlalu buruk pada anak.

Sayangnya, banyak anak yang tak mempunyai proteksi yang kuat dari dalam keluarganya terhadap nilai-nilai dasar semasa kecil. Hal itu yang membuat mereka jatuh didalam kelamnya pengaruh luar. Sebenarnya hal ini dapat dicegah dengan adanya faktor positif pendukung, yaitu : pertama, adanya kondisi kondusif yang tertanam dalam keluarga, dengan pembentukan nilai-nilai yang berlaku. Kedua, adalah biasanya lingkungan yang baik akan mempercepat pertumbuhan yang baik pula bagi anak itu sendiri.

D.       Pengaruh Kemampuan Berbahasa Terhadap Kemampuan Berpikir

Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling mempengaruhi satu sama lain. Bahwa kemampuan berpikir berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan sebaliknya kemampuan berbahasa berpengaruh terhadap kemampuan berpikir. Seseorang yang rendah kemampuan berpikirnya, akan mengalami kesulitan dalam menyusun kalimat yang baik, logis dan sistematis. Hal ini akan menyulitkan mereka dalam berkomunikasi.

Bersosialisasi berarti melakukan konteks dengan yang lain. Seseorang menyampaikan ide dan gagasannya dengan berbahasa dan menangkap ide dan gagasan orang lain melalui bahasa. Menyampaikan dan mengambil makna ide dan gagasan itu merupakan proses berpikir yang abstrak. Ketidaktepatan menangkap arti bahasa akan berakibat ketidaktepatan dan kekaburan  persepsi yang diperolehnya. Akibat lebih lanjut adalah bahwa hasil proses berpikir menjadi tidak tepat benar. Ketidaktepatan hasil pemprosesan pikir ini diakibatkan kekurangmampuan dalam bahasa.

Kesimpulan : Oleh Januari Rizki Pratama Rusman

Antara kemampuan dalam berbahasa dan kemampuan berpikir memiliki kaitan yang sangat erat satu sama lain. Kedua kemampuan ini memiliki hubungan timbal balikn dan saling mempengaruhi satu sama lain. Seseorang dapat dinilai kemampuan berpikirnya melalui tutur bahasa, dan begitu juga sebaliknya. Jadi, tutur bahasa seseorang itu bisa menggambarkan seberapa intelek orang tersebut.

Pepatah lama mengatakan : “Bahasa menunjukkan kualitas pembicara”. Atau diperluas lagi: “Bahasa menunjukkan bangsa”. Artinya, kepribadian seseorang atau suatu bangsa bisa diamati dan dianalisis dari tutur katanya, bacaan yang digemarinya, juga dari karakter bahasa yang ada, karena setiap bahasa memiliki muatan filsafat yang akan membentuk sifat masyarakatnya dan pada urutannya, secara dialektis karakter masyarakat akan membentuk karakter bahasa yang ada.

Ibarat sebuah disket komputer, perasaan, pikiran dan perilaku kita, disadari atau tidak banyak dipengaruhi oleh nilai-nilai yang termuat dalam bahasa. Bahasa termasuk dalam sistem memori, kemudian bekerja mempengaruhi progran perasaan dan pikiran yang diteruskan outputnya dalam bentuk ucapan dan perilaku. Itulah sebabnya, agama maupun para psikolog sangat menekankan agar para orang tua membiasakan untuk mengenalkan kata-kata yang sehat pada anak, yang bersifat positif dan optimis. Sebab, hal itu akan mempengaruhi cara berpikir sampai dewasa.

Dari hasil pengamatan para psikolog, bisa disimpulkan bahwa anak yang terbiasa hidup dicaci maki dan diumpat, kelak kalau sudah besar sulit bekerja sama dengan orang lain dan sulit baginya untuk menghargai prestasi orang lain.

Diatas, sudah dijelaskan bahwa antara kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir memiliki hubungan yang sangat erat. Orang yang kemampuan berpikirnya rendah akan kesulitan dalam menyusun kata-kata logis dan sistematis. Hal itu disebabkan karena tidak ada korelasi kerja yang seimbang antara kemampuan berpikir dan kemampuan berbahasa.

Bahasa, seperti yang kita ketahui merupakan alat (media) untuk berkomunikasi dengan orang lain. Kita dapat menyampaikan keinginan kita, ide, gagasan-gagasan kita kepada orang lain dengan menggunakan bahasa. Oleh karena itu, jika kemampuan dalam berbahasa rendah, maka tentu saja orang tersebut akan kesulitan menyampaikan ide dan gagasannya pada orang lain.

Dalam kehidupan sehari-hari, mudah sekali diamati bahwa bermula dari pikiran, lalu tertuang dalam omongan, kemudian muncullah sekian banyak efek, baik yang positif maupun negatif. Jadi, kebenaran sebuah bahasa bukan semata-mata terletak pada susunan gramatikalnya saja, tetapi juga pada tata pikir, intonasi, dan implikasi yang muncul dari sebuah ucapan. Mengingat selalu terdapat jarak antara kehendak batin dan ucapan lahir, eksternalisasi tidak pernah cukup terwadahi hanya dalam satu kata, melainkan memerlukan bentuk kalimat. Sedemikian eratnya hubungan emosi, pikiran dan ucapan, kalau saja kita rekam apa saja yang kita rekam mulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur, lalu kita transkrip ke dalam tulisan, barangkali setiap hari kita menghasilkan monograf berlembar-lembar. Meskipun secara gramatikal tentu banyak ungkapanyang tidak benar, dan banyak pula kata yang diulang-ulang.

Jadi, kesinambungan antara kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir adalah sesuatu yang vital. Karena semua keinginan dan perasaan bisa diutarakan dengan kata-kata. Oleh karena itu, ada baiknya bagi semua orang untuk meningkatkan kemampuan berbahasanya. Hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara, seperti memperbanyak perbendaharaan kata, memperluas kosakata, dll. Tentu saja peningkatan kualitas dalam berbicara sangat dibutuhkan dalam berbagai aspek kehidupan. Terlebih lagi bagi profesi-profesi yang mengharuskan untuk berhubungan dengan banyak orang. Dalam kasus ini, kita ambil contoh profesi sebagai Guru/Pendidik. Dalam pergaulan dan interaksi sehari-hari dengann siswanya, tentunya seorang Guru harus banyak berbicara, Guru menjelaskan semua materi kepada siswanya melalui bahasa. Apabila Guru tersebut kemampuan baerbahasanya kurang, maka tentunya dalam proses penyampaian materi kepada siswanya akan banyak menemui masalah. Jadi, jika seorang Guru kurang kemampuan berbahasanya dalam menyampaikan materi kepada siswa-siswanya hal ini tentu akan menyulitkan.

Dalam memahami betapa pentingnya kemampuan berbahasa dalam mempengaruhi pikiran, ada baiknya kita melihat pendapat dari Dr. Howard Gardner, yang menyatakan manusia memiliki 8 jenis kecerdasan, yaitu sebagai berikut :

  1. Kecerdasan Intepersonal,
  2. Kecerdasn Intrapersonal,
  3. Kecerdasan Logical Mathematic,
  4. Kecerdasan Linguistic,
  5. Kecerdasan Naturalis,
  6. Kecerdasan Visual Spasial,
  7. Kecerdasan Kinestetic, dan
  8. Kecerdasan Musical.

8 jenis kecerdasan diatas termasuk dalam kategori Inteligent Quotient (IQ), yang mempengaruhi tingkat intelektual dan kecerdasan manusia. Sekarang kita simak poin (d), ternyata kecerdasan Linguistik termasuk di dalamnya.

Ciri-ciri orang yang cerdas linguistiknya, yaitu:

  1. Dapat mendengar dan memberi respon secara verbal,
  2. Mampu menirukan suara, mempelajari bahasa asing, membaca dan menulis karya sastra,
  3. Cenderung belajar melalui pendengaran, bahan bacaan, tulisan dan diskusi,
  4. Mampu menjadi pendengar yang efektif, cepat mengerti dalam mengingat sesuatu yang didengar,
  5. Mampu dan cepat beradaptasi dengan menguasai bahasa daerah di tempat baru,
  6. Cenderung memiliki selera humor yang baik,
  7. Lebih tertarik pada karya seni, jurnalistik dan fotografi.

Dari ciri-ciri diatas, kita bisa menyimpulkan bahwa kemampuan dalam berbahasa termasuk dalam kemampuan berpikir, dan kedua hal ini sangat penting dalam meniti karir dalam dunia kerja professional. Oleh karena itu, bila kemampuan bahasa tinggi, berarti kemampuan berpikirnya tinggi, begitu juga sebaliknya.

E.     Perbedaan Individual dalam Kemampuan dan Perkembangan Bahasa

Menurut Chomsky (Woolfolk, dkk. 1984) anak dilahirkan ke dunia telah memiliki kapasitas berbahasa. Akan tetapi seperti dalam bidang yang lain, faktor lingkungan akan mengambil peranan yang cukup menonjol, mempengaruhi perkembangan bahasa anak tersebut. Mereka belajar  makna kata dan bahasa sesuai dengan apa yang mereka dengar, lihat dan mereka hayati dalam hidupnya sehari-hari. Perkembangan bahasa anak terbentuk oleh lingkungan yang berbeda-beda.

Berpikir dan berbahasa  mempunyai korelasi tinggi; anak dengan IQ tinggi akan berkemampuan  bahasa yang tinggi. Sebaran nilai IQ menggambarkan adanya perbedaan individual anak, dan dengan demikian kemampuan mereka dalam bahasa juga bervariasi sesuai dengan varasi kemampuan mereka berpikir.

Bahasa berkembang dipengaruhi oleh faktor lingkungan, karena kekayaan lingkungan akan merupakan pendukung bagi perkembangan peristilahan yang sebagian besar dicapai dengan proses meniru. Dengan demikian remaja yang berasal dari lingkungan  yang berbeda juga akan berbeda-beda pula kemampuan dan perkembangan bahasanya.

F.     Upaya Pengembangan Kemampuan Bahasa Remaja dan Implikasinya Dalam Penyelenggaraan Pendidikan

Kelas atau kelompok belajar terdiri dari siswa yang bervariasi bahasanya, baik kemampuannya maupun polanya. Menghadapi hal ini guru harus mengembangkan strategi belajar-mengajar bidang bahasa dengan memfokuskan pada potensi dan kemampuan anak.

Pertama, anak perlu melakukan pengulangan (menceritakan kembali) pelajaran yang telah diberikan dengan kata dan bahasa yang disusun oleh murid-murid sendiri. Dengan cara ini senantiasa guru dapat melakukan identifikasi tentang pola dan tingkat kemampuan bahasa murid-muridnya.

Kedua, berdasar hasil identifikasi itu guru melakukan pengembangan bahasa murid dengan menambahkan perbendaharaan bahasa  lingkungan yang telah dipilih secara tepat dan benar oleh guru. Cerita murid tentang isi pelajaran yang telah dipercaya itu diperluas untuk langkah-langkah selanjutnya, sehingga para murid mampu menyusun cerita lebih komprehensif tentang isi bacaan yang telah dipelajari dengan menggunakan pola bahasa mereka sendiri.

Perkembangan bahasa yang menggunakan model pengekspresian secara mandiri, baik lisan maupun tertulis, dengan mendasarkan pada bahan bacaan akan lebih mengembangkan kemampuan bahasa anak membentuk pola bahasa masing-masing. Dalam penggunaan model ini guru harus banyak memberikan rangsangan dan koreksi dalam bentuk diskusi atau komunikasi bebas. Dalam pada itu sarana perkembangan bahasa seperti buku-buku, surat kabar, majalah, dan lain-lainnya hendaknya disediakan di sekolah maupun dirumah.


BAB III

PENUTUP

 A.       Saran

Perkembangan bahasa terkait dengan perkembangan kognitif, yang berarti faktor intelek/kognisi sangat berpengaruh terhadap perkembangan kemampuan berbahasa.

Oleh karena itu, kita harus menggunakan dan mengembangkan bahasa. Dengan berkembangnya bahasa secara tidak sadar kita telah melangkah menuju tahap kedewasaan yang sudah merupakan kodrat kita sebagai manusia.

Hanya saja, agar pertumbuhan itu mencapai hasil yang maksimal harus mempertahankan faktor-faktor pendukungnya.

B.        Kesimpulan

Perkembangan bahasa adalah meningkatkatnya kemampuan penggunaan bahasa sebagai alat komunikasi. Bahasa yang digunakan  oleh remaja sangat dipengauhi oleh bahasa yang didapatkan dalam proses sosialisasi dengan teman sebayanya. Dengan kata lain, lingkungan keluarga dan sekolah memiliki peran yang sangat penting dalam menghadapi perkembangan bahasa.

Bahasa memegang peran penting dalam kehidupan bermasyarakat. Perkembangan bahasa dipengaruhi oleh banyak faktor, antara lain adalah usia anak, kondisi keluarga dan kondisi fisik anak terutama dari segi kesehatannya.

Kemampuan berbahasa dan kemampuan berpikir saling berpengaruh satu sama lain. bahwa kemampuan berpikir berpengaruh terhadap kemampuan berbahasa dan sebaliknya kemampuan berbahasa berpengaruh terhadap kemampuan berpikir. Keduanya saling menunjang satu sama lainnya.

DAFTAR RUJUKAN

 

Ali, Muhammad. 2008. Psikologi Remaja : Perkembangan Peserta Didik. Jakarta : Bumi Aksara.

Fatimah, Enung. 2008. Psikologi Perkembangan : Perkembangan Peserta Didik. Bandung: Pustaka Setia.

Hamid, Fuad Abdul. 1987. Proses Belajar Mengajar Bahasa. Jakarta: PPLPTK Depdikbud.

Halaman Web :

http://meetabied.wordpress.com/2010/06/03/perkembangan-bahasa-remaja/

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahasa_prokem

http://id.shvoong.com/social-sciences/psychology/1641582-mengapa-remaja-suka-menggunakan-bahasa/

http://www.tumbuh-kembang-anak.blogspot.com/

http://www.med.umich.edu/1libr/yourchild/devdel.htm

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s