PSIKOLINGUISTIK

  1. Psikolinguistik

Bahasa adalah salah satu elemen penting dalam kehidupan manusia, terutama dalam kaitannya dengan interaksi. Bahasa menjadi media dalam penyampaian dan penyaluran informasi terutama semenjak teknologi telah memasuki kehidupan manusia. Interaksi tidak hanya terjadi antar dua orang atau sekelompok orang saja yang berada di satu tempat, melainkan antar orang yang ada di berbagai belahan dunia dalam waktu yang bersamaan, yakni melalui video call, telepon, dan chatting (obrolan online).

Pada awalnya, keberadaan psikolinguistik bermula dari adanya ketertarikan pakar linguistik pada bidang psikologi dan adanya pakar psikologi yang berkecimpung dalam linguistik. Kemudian berlanjut dengan adanya kerja sama antara pakar linguistik dan pakar psikologi, dan kemudian muncullah pakar-pakar psikolinguistik sebagai disiplin ilmu.

Psikolinguistik merupakan sebuah disiplin ilmu yang berada di antara psikologi dan linguistik (kebahasaan). Dengan kata lain, psikolinguistik merupakan disiplin ilmu yang bertujuan mencari satu teori bahasa yang secara linguistik bisa diterima dan secara psikologi dapat menerangkan hakikat bahasa dan pemerolehannya. Lado (dalam file.upi.edu/…Psikolinguistik/, 2013) mendefinisikan Psikolinguistik sebagai pendekatan gabungan melalui psikologi dan linguistik bagi telaah atau studi pengetahuan bahasa, bahasa dalam pemakaian, perubahan bahasa, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu, yang tidak mudah dicapai atau didekati melalui salah satu dari kedua ilmu tersebut secara terpisan atau sendiri-sendiri.

Objek psikolinguistik adalah bahasa, gejala jiwa, dan hubungan di antara keduanya. Bahasa yang berproses dalam jiwa manusia yang tercermin dalam gejala jiwa. Bahasa dilihat dari aspek psikologis, yakni proses bahasa yang terjadi pada otak (mind), baik pada otak pembicara maupun otak pendengar.

Aspek-aspek yang penting dalam garapan psikolinguistik, antara lain (dalam file.upi.edu/…Psikolinguistik/, 2013) :

(1) kompetensi (proses bahasa dalam komunikasi dan pikiran)

(2) akuisisi (pemerolehan bahasa)

(3) performansi (pola tingkah laku berbahasa)

(4) asosiasi verbal dan persoalan makna

(5) proses bahasa pada orang abnormal

(6) persepsi ujaran dan bahasa

(7) pembelajaran bahasa

Sedangkan pada bahasan ini, penulis akan menjabarkan 3 materi pokok dalam bidang psikolinguistik : bahasa dan otak, bahasa dan pikiran, dan pemerolehan bahasa pertama.

2.             Kajian Psikolinguistik

 a.      Bahasa dan Otak

Bahasa tidak dapat dipisahkan dengan otak, karena di otak terjadi pemrosesan bahasa sehingga dapat diproduksi oleh manusia. Otak merupakan benda putih yang lunak yang terdapat di dalam rongga tengkorak yang menjadi pusat saraf. Otak juga merupakan alat berpikir.

Kompetensi dan performansi berbahasa merupakan pekerjaan otak. Otak bekerja karena mekanisme saraf. Ilmu tentang urat saraf (neuron) dan penyakit pada urat saraf (neurosis) serta gangguan saraf (neurotik) disebut neurologi.  Fritz & Hitzig (1874) membagi otak manusia menjadi dua bagian, yakni hemisper kiri (left hemisphere) dan hemisper kanan (right hemisphere). Kedua sisi otak ini masing-masing memiliki fungsi khusus dan berbeda. Hemisper kanan digunakan sebagai pusat untuk mengawasi kesadaran letak tubuh dan anggota badan lainnya serta tugas-tugas mengenal ruang serta mengontrol anggota gerak sebelah kiri. Selain itu, otak bagian ini juga bertugas mengawasi suara. Sedangkan hemisper kiri digunakan sebagai pusat kemampuan berbicara dan pengontrol anggota gerak sebelah kanan.

Broca dalam Fauziati (1861) menyebutkan bahwa kemampuan berbicara berpusat pada otak sebelah kiri atau hemisper kiri agak ke depan. Bagian ini terkenal dengan sebutan daerah Broca (Broca’s area), yang berfungsi menguasai ujaran. Ada empat faktor dasar ujaran, yakni: sebuah ide, hubungan konvensional antara ide dan kata, cara penggandengan gerak artikulasi dengan kata, dan penggunaan alat-alat artikulasi. Apabila bagian depan (anterior) dari hemisper kiri terluka atau sakit, maka manusia akan mengalami gangguan artikulasi atau pengucapan, misalnya, ucapan kurang jelas, lafal kurang baik, kalimat-kalimat menjadi tak gramatikal, dan berbicara tidak lancar. Meskipun begitu, penderita penyakit ini masih mampu mengungkapkan kalimat-kalimat bermakna sesuai dengan tujuan komunikasinya. Penyakit seperti ini di kalangan neurolog disebut Broca’s aphasia.

Rata-rata berat otak manusia berkisar antara 1 hingga 1,5 kg atau 2,25 hingga 3,25 pon. Berat otak akan meningkat seiring dengan pertambahan usia, terutama pada usia 1 hingga 2 tahun. Ketika berusia 16 tahun, kapasitas otak telah mencapai 80% dari bobot total 100% otak manusia dewasa (Taylor dalam Fauziati, 2008). Antara hemisper kiri dan kanan dihubungkan oleh serabut yang disebut Corpus callosum. Corpus callosum ini berfungsi mengkomunikasikan antara hemisper kiri dan kanan. Serabut ini juga berfungsi sebagai principle integrator dan koordinator dalam proses mental yang terjadi pada dua belahan otak tersebut. Setiap belahan otak ini dibagi kedalam 4 bagian atau lobus, dari bagian depan sampai belakang terdapat lobus frontal, lobus temporal, lobus parietal, dan lobus oksipital.

Lobus frontal merupakan area yang bertanggung jawab mengontrol gerakan, yang bernama primary motor-cortex, pre-motor cortex, dan area yang berhubungan dengan produksi bahasa yang bernama Broca’s area, umumnya area ini bertanggung jawab atas kesadaran. Kemudian ada lobus parietal yang berisi primary somesthetic cortex yang bertanggung jawab atas rasa tubuh. Pada area ini juga terdapat bagian yang bertanggung jawab atas bahasa  yang disebut angular gyrus, umumnya  bertanggunggung jawab sebagai perasa somesthetic (seperti rasa di lengan, kaki, wajah, dsb). Ketiga, terdapat lobus temporal yang berisi primary auditory cortex yang bertanggung jawab dalam proses mendengar dan juga dikenal dengan nama Wernicke’s area. Keempat, yakni lobus oksipital yang berisi visual cortex yang memproses informasi dalam proses melihat.

Peranan otak dalam pemerolehan bahasa sangatlah penting, hal ini terlihat dari adanya proses Lateralisasi pada otak dimana lateralisasi ini merupakan proses pembedaan fungsi yang terjadi baik di hemisper kiri maupun kanan, dimana salah satu hemisper menjadi lebih dominan atau memiliki spesialisasi pada fungsi masing-masing. Bukti dari adanya lateralisasi pada otak terlihat dari adanya pasien yang menagalami “split brain” yaitu suatu kondisi dimana dua belahan otak berdiri pada fungsinya masing-masing. Selain itu, Steinberg et al. dalam Fauziati (2008) juga berpendapat bahwa kedua belahan otak pamemepunyai struktur dan fungsi khusus dimana beberapa fungsi terjadi di hemisphere kiri dan sisanya berada pada hemisphere kanan. Jadi, pemisahan fungsi inilah yang disebut proses Lateralisasi.

Pada manusia, hubungan proses lateralisasi sangat mempengaruhi kemampuan dalam penggunaan bahasa. Berdasarkan penemuan dalam penelitian Brain Lateralization, ditemukan bahwa bagian otak yang paling dominan dalam produksi bahasa yakni hemisper kiri. Nickerson dalam Garman (1990) menegemukakan bahwa otak mengendalikan setiap gerak, aktivitas, atau kegiatan manusia. Kegiatan menulis dan berpikir lebih banyak dikendalikan oleh belahan otak kiri. Hal ini dapat dilihat dalam skema daerah dominasi otak kiri dan otak kanan berikut ini.

DAERAH DOMINASI

NO. OTAK KIRI OTAK KANAN
1. Intelektual Intuitif
2. Mengingat nama Mengingat wajah
3. Tanggap terhadap penje-lasan dan instruksi verbal. Tanggap terhadap demonstrasi, ilustrasi, atau instruksi simbolik.
4. Percobaan sistematis dan dengan pengendalian. Percobaan acak dan dengan sedikit pengendalian.
5. Membuat pertimbanganObjektif Membuat pertimbangansubjektif
6. Terencana dan tersusun Berubah-ubah dan spontan
7. Lebih suka kenyataan, informasi yan dipahami. Lebih suka hal yang sukar dipahami.
8. Pembaca analisis Pembaca sistematis
9. Bergantung pada bahasa dalam Bergantung pada kesan
10. Lebih suka berbicara dan menulis Lebih suka menggambar dan memanipulasi objek.
11. Lebih suka tes pilihan ganda Lebih suka pertanyaan terbuka
12. Kurang baik menginter-pretasi bahasa tubuh. Baik menginterpretasi bahasa tubuh.
13. Mengendalikan perasaan Lebih bebas dengan perasaan
14. Jarang menggunakanMetafora Sering menggunakanmetafora
15. Menyenangi pemecahan masalah secara logis. Menyenangi pemecahan masa-lah secara intuitif.

Proses lateralisasi terjadi semenjak anak baru lahir sampai berusia lima tahun (Krashen dalam Fauziati, 2008). Ketika proses lateralisasi selesai, maka seseorang dikatakan telah memasuki fase dimana otot-otot dan sel-sel otaknya tidak lagi lentur dan fleksibel untuk memproduksi suatu bahasa sebaik penutur aslinya (Lenneberg dalam Fauziati, 2008). Jika seorang anak mendapatkan input yang bagus (berada di lingkungan yang mendukung suatu bahasa, misalnya bahasa inggris) dimana proses lateralisasi masih berjalan, maka anak tersebut memiliki kesempatan untuk dapat memproduksi bahasa sebaik penutur asli bahasa Inggris.

Seseorang yang mengalami gangguan berbicara seperti gagap dapat diindikasikan mengalami gangguan atau kelainan pada salah satu bagian otaknya. Untuk mampu berbahasa diperlukan kemampuan pemahaman (resepsi) dan kemampuan produksi (ekspresi). Implikasinya ialah daerah Broca dan Wernicke harus berfungsi secara penuh. Kerusakan pada salah satu atau kedua daerah tersebut akan mengakibatkan gangguan berbahasa yang disebut aphasia.

Aphasia dapat dibedakan atas 2 jenis : aphasia motorik (ekspresif) atau aphasia Broca dan aphasia sensorik (reseptif) atau aphasia Wernicke seperti dalam diagram berikut ini.

Kerusakan otak yang dominan dapat mengakibatkan aphasia motorik, kerusakan dapat terletak pada lapisan permnukaan (lesi kortikal) daerah Broca, di lapisan di bawah permukaan (lesi subkortikal) daerah Broca, atau antara daerah Broca dan daerah Wernicke (lesi transkortikal). Aphasia motorik kortikal ialah hilangnya kemampuan untuk mengutarakan isi pikiran dengan menggunakan perkataan. Ia mengerti bahasa lisan dan tulis, tetapi tidak mampu berekspresi secara verbal, meskipun masih mampu dengan menggunakan isyarat. Kemudian, Aphasia motorik subkortikal ialah penderita tidak mampu mengutarakan isi pikirannya dengan menggunakan perkataan, namun masih bisa dengan cara membeo. Pemaknaan ekspresi verbal dan visual tidak terganggu, bahkan 80 % ekspresi visualnya normal. Sedangkan Aphasia motorik transkortial (aphasia nominatif) ialah aphasia yang masih dapat mengutarakan isi pikiran dengan menggunakan perkataan yang singkat dan tepat, namun masih mungkin menggunakan perkataan penggantinya. Misalnya, tidak mampu menyebut nama barang yang dipegangnya, tetapi tahu kegunaannya.

Aphasia sensorik terjadi akibat lesi kortial di daerah Wernicke pada hemisper yang dominan. Daerah itu terletak di kawasan asosiatif antara daerah visual, sensorik, motorik, dan pendengaran. Kerusakan pada daerah Wernicke akan mengakibatkan kehilangan pengertian bahasa lisan dan tulis, namun ia masih memiliki curah verbal, sekalipun tidak dipahami oleh dirinya maupun orang lain. Curah verbal ini merupakan neologisme, yakni bahasa baru yang tidak dimengerti oleh siapa pun, biasanya diucapkan dengan irama, nada, dan melodi yang sesuai dengan bahasa asing yang ada. Ia bersikap biasa, tidak tegang, ataupun depresif.

b.      Bahasa dan Pikiran

Pikiran (mind) merupakan hasil berpikir atau memikirkan; akal budi atau ingatan; akal atau daya upaya; angan-angan atau gagasan; dan niat atau maksud. Sedangkan kegiatan menggunakan akal budi untuk mempertimbangkan dan merumuskan sesuatu, menimbang-nimbang dalam ingatan, disebut berpikir. Lalu, apa hubungan antara bahasa dan pikiran? Sudut pandang Chomsky (2006) teentang keterkaitan akan bahasa dan pikiran lebih merujuk pada bagaimana kompetensi dan performansi masing-masing orang dalam menggunakan bahasa.

Salah satu materi yang memiliki hubungan dengan bahasa dan pikiran ini yaitu mental lexicon. Mental lexicon diibaratkan seperti kamus yang ada dalam otak manusia. Secara umum, mental leksikon (Crystal dalam Syamsuar, 2010) menyatakan bahwa mental leksikon adalah istilah yang mengacu kepada representasi yang tersimpan di dalam otak mengenai apa yang seseorang ketahui tentang butir leksikal dalam bahasanya. Kemudian Richards et al. dalam Syamsuar (2010) lebih lanjut menjelaskan bahwa sebenarnya leksikon adalah rangkaian kata atau idiom dalam sebuah bahasa. Lebih jauh lagi ia menjelaskan bahwa leksikon bahwa leksikon merupakan sebuah sistem mental yang mengandung semua informasi yang diketahui seseorang tentang kata. Ia juga mengatakan bahwa menurut para ahli psikolinguistik bahwa pengetahuan tentang kata mencakup tiga (3) hal yakni : pengetahuan tentang bagaimana sebuah kata diucapkan; pola-pola gramatikal yang bersama pola-pola itu dan bagaimana sebuah kata digunakan; dan makna atau beberapa makna dari sebuah kata. Dengan kata lain, jumlah kata yang diketahui oleh seorang pengguna bahasa membentuk mental leksikonnya.

Ketika seseorang menginternalisasikan pengetahuannya, maka dia akan menggunakan mental leksikonnya dimana ia mengandalkan properti dari kata-kata itu : bunyi (bagaimana melafalkan kata); sintaksis (bagaimana menggunakan sekumpulan kata); semantik (bagaimana mengidentifikasi makna); dan pragmatik (bagaimana menggunakan kata-kata sesuai dengan konteksnya).

Salah satu bahasan lain yang tidak kalah pentinnya berkaitan dengan mental leksikon yakni Memori. Kebanyakan dari kita percaya bahwa memori adalah rekaman permanen tentang pengalaman kita. Dalam hal ini, kita menyakini bahwa tidak ada hal yang hilang sedikit pun. Setiap hal yang pernah kita alami tersimpan di dalam otak kita, dalam hal ini memori.

Memori memiliki peranan yang sangat penting di dalam penggunaan bahasa. Ini merupakan tempat dimana suara dan kata (makna kata) tersimpan, dan disini juga adalah tempat dimana ide (konsep) serta gagasan dibentuk. Berdasarkan lokasinya, memori dibagi kedalam tiga bagian : sensory register, short term memory (ingatan jangka pendek), dan long term memory (ingatan janka panjang) (Taylor dalam Fauziati, 2008).

Sensory register merupakan tempat dimana stimulus diterima, kemudian menahannya untuk beberapa saat, kemudian dianalisa sebelum kemudian diteruskan. Register yang terpisah memiliki fungsi yang berbeda untuk setiap rangsangan, seperti visual (grafik) dan auditory (suara). Sensory register ini sangat berperan dalam proses bahasa lisan dan tulisan. Misalnya ketika seseorang memproduksi bunyi yang berupa kata-kata, auditory images akan teregistrasi pada auditory register. Maksudnya, ketika seseorang memproduksi sebuah kata, maka gambaran visuakl akan tersimpan dalam visual register. Informasi dari sensori register ini kemudian  diteruskan menuju short term memory.

Short term memory merupakan tempat dimana informasi ditahan dalam jangka waktu tertentu selama pemrosesan pesan. Informasi ini  datang dari sensory register. Setiap informasi yang bertahan lama di dalam short term memory untuk kemudian diproses, dipahami,  dan dianggap sangat penting atau perlu untuk diingat pada suatu saat kemudian akan tersimpan di dalam long term memory.

Sementara long term memory merupakan tempat dimana informasi tersimpan secara permanen. Ada 2 komponen berbeda dalam long term memory ini : episodic memory dan semantic memory. Episodic memory mengacu kepada informasi atau fakta atau kejadian-kejadian yang pernah dialami manusia dan jelas waktu terjadinya. Sedangkan semantic memory mengacu kepada apa yang orang ketahui tentang penetahuan, informasi tentang kebenaran umum, konsep, dan kosakata. Isi dari semantic memory ini bersifat eksplisit, diketahui, dan dapat diingat kembali pada masa yang akan datang.

Ketika seseorang telah melewati fase pemerolehan bahasa dimana mental leksikon dan memori sudah mendukung, maka dengan sendirinya orang tersebut dikatakan mampu memproduksi bahasa. Maka orang yang bersangkutan akan mengetahui hubungan atau keterkaitan antara suara dan makna dalm bahasa tanpa menyadari atau berpikir secara sengaja tentang kaidah grammar, hal ini disebut dengan kompetensi. Chomsky (1965) mengemukakan bahwa kompetensi mengacu pada pengetahuan dasar tentang suatu sistem, peristiwa atau kenyataan. Kompetensi ini bersifat abstrak, tidak dapat diamati, karena kompetensi terdapat dalam alam pikiran manusia. Yang dapat diamati adalah gejala-gejala kompetensi yang tampak dari perilaku (kebahasaan) manusia seperti berbicara, berjalan, menyanyi, menari dan sebagainya. Sedangkan performansi merefleksikan proses yang sebenarnya dalam memproduksi dan memahami bahasa. Dalam kenyataan yang aktual, performansi itu tidak sepenuhnya mencerminkan kompetensi kebahasaan. Chomsky (1965) mengemukakan bahwa dalam pemakaian bahasa secara konkret banyak ditemukan penyimpangan kaidah, kekeliruan, namun semua itu masih dapat dipahami oleh pembicara-pendengar karena mereka mempunyai kompetensi kebahasaan.

Seorang penutur bisa saja mengalami kesalahan atau kekeliruan dalam memproduksi kata atau suara, bagian kata, kata, maupun bagian kalimat (speech errors). Ada beberapa jenis speech error (Fauziati, 2008), yakni : Semantic error dimana kesalahan terjadi karena kemiripan makna atau arti. Semantic error seringkali terjadi pada pemilihan kata dimana kata yang dimaksudkan memiliki makna diisi oleh kata yang salah (dari kelas kata yang sama), dimana kata-kata ini secara semantik berkaitan (misalnya antonim, hiponim, dsb). Clark and Clark dalam Fauziati (2008) mengemukakan bahwa error terjadi karena terdapat kata yang mengganggu keberadaan kata yang telah ada di leksikon sebelumnya karena adanya keterkaitan secara semantik. Kedua, yakni Malaporism dimana seseorang mengalami gangguan dalam pemilihan kata dikarenakan kata-kata yang bersangkutan memiliki kesamaan bunyi. Misalnya derangement untuk arrangement, alligator untuk allegory, dan tambourines untuk trampolines. Dalam hal ini, kata yang mengganggu dan menyebabkan error secara fonetis berkaitan atau memilik kesamaan dengan kata target (Taylor dalam Fauziati, 2008). Jenis error yang terakhir yaitu Blends dimana hal ini terjadi ketika dua kata bergabung untuk membentuk sebuah kata baru. Error jenis ini jarang terjadi dan hanya terjadi pada sebagian orang saja. Ketika sebuah konsep ingin diekspresikan oleh seorang penutur dengan menggunakan dua kata yang memiliki kemiripan, maka dia bisa menjadi ragu akan kata mana yang bisa merepresentasikan idenya, kemudian dia mungkin memilih dua kata kemudian menggabungkannya menjadi satu kata (Taylor in Fauziati, 200\8) (misalnya please exland that, instead of explain and expand) (Atchinson in Fauziati, 2008).

c.       Pemerolehan Bahasa Pertama

Pemerolehan bahasa pertama berkaitan dengan pembahasan sebelumnya, yakni pada Lateralisasi. Dikatakan sebelumnya bahwa seseorang akan memiliki kemampuan seperti penutur asli suatu bahasa apabila pada masa lateralisasi diekspos dengan input yang mendukung. Misalnya suasana dalam lingkungan keluarga yang berkomunikasi dengan menggunakan bahasa Inggris dalam kesehariannya. Lenneberg dalam Fauziati (20080 mengemukakan bahwa terdapat periode kritis (critical period/golden age period) dimana proses pemerolehan bahasa terjadi secara alami, dan ini terjadi semenjak masih bayi sampai memasuki periode pubertas. Lebih jauh lagi Taylor dalam Fauziatin (2008) menguatkan bahwa bahasa diperoleh lebih cepat pada masa kritis ini dimana :

  1. Seorang anak normal memperoleh bahasa tidak melalui proses formal (pendidikan) tetapi melalui kegitana atau aktivitas informal dan feedback (timbal balik.
  2. Seorang anak yang hidup di suatu lingkungan dengan 2 atau 3 bahasa selama periode ini akan menyerap semua bahasa tersebut sama baiknya dengan anak-anak lainnya yang seumuran yang dihadapkan pada satu bahasa saja.

Selain itu, pada masa Lateralisasi juga terdapat Silent Period, dimana seorang anak yang masih berumur di bawah 5 tahun akan mengalami fase diam. Dalam fase diam ini, dia akan menjadi diam, tetapi kediaman si anak ini bukan karena dia tidak mendapat input dari lingkungan atau tidak mengerti akan bentuk pertanyaan dan ujaran dari orang-orang disekitarnya. Tetapi si anak ini, terus menerima informasi-informasi hingga mencapai suatu masa dimana perkembangan otaknya telah matang dan Silent Period ini berakhir dan si anak tersebut mampu menggunakan bahasa untuk berkomunikasi layaknya orang dewasa. Orang tua yang memiliki anak dan sedang menjalani periode ini disarankan untuk memberikan input yang sebaik-baiknya kepada si anak, karena setiap kata yang di dengar oleh si anak akan langsung terserap olehnya.

3.        Kesimpulan

Psikolinguistik merupakan suatu disiplin ilmu yang berasal dari perpaduan antara psikologi dan linguistik. Kaitannya yakni bagaimana proses pemerolehan dan penggunaan bahasa ditinjau dari aspek psikologi. Dimulai dari struktur otak yang dimana di dalamnya terdapat suatu sistem yang sangat kompleks, masing-masing dari setiap bagian memiliki fungsi yang berbeda dalam hal bahasa. Belahan otak dengan fungsi masing-masing ini ternyata tidaklah cukup bagi seseorang untuk menjadi bekalnya dalam berbahasa, dibutuhkan suatu tempat dimana informasi mengenai bahasa tersimpan, yakni mental lexicon, serta kaitannya dengan memori, apakah suatu informasi disimpan dalam bentuk short term memory dan long term memory. Kesalahan dalam berbahasa juga dapat terjadi pada manusia. Untuk itu, seorang anak haruslah diberikan kesempatan sebaik-baiknya ketika ia dilahirkan, diberikan input yang sesuai, agar kelak ia mampu menjadi seorang manusia yang memiliki keseimbangan dalam psikologi dan linguistik yang merupakan bekal dari si anak dalam menjalani kehidupan di masa depannya, terutama dalam periode dewasanya.

REFERENSI

Chomsky, Noam.  1965. Aspects of The Theory of Syntax. Cambridge: The M.I.T. Press, h. 4

Chomsky, Noam. 2006. Language and Mind: USA. Cambridge University.

Fauziyati, Endang. 2008. An Introduction to Psycholinguistics. Surakarta : Muhammadiyah University Press.

Garman, Michael. 1990. Psycholinguistics. London: Cambridge University Press.

Syamsuar, Fauzi. 2010. Thesis Pasca-Sarjana : Perolehan Leksikon. Jakarta : FIB Universitas Indonesia.

Jurnal Online :

Koleksi Jurnal UPI. 2010. Psikolinguistik. Bandung. Universitas Pendidikan Indonesia Online Journal dalam file.upi.edu/…Psikolinguistik/, 2013, diakses pada 10 Juni 2013.

Website :

http://move14.wordpress.com/2008/09/12/kompetensi-dan-performansi-dalam-pendekatan-komunikatif/, diakses pada 10 Juni 2013.

http://aurigamaulana.blogspot.com/2013/02/definisi-psikolinguistik.html, diakses pada 10 Juni 2013.

This paper was proposed as one of the required assignments in Psycholinguistics lecture, guided by Drs. H. Priyono, MA., Ph.D.