MEWUJUDKAN PENDIDIKAN NASIONAL YANG BERKUALITAS

Suatu bangsa akan maju jika pendidikannya baik dan berkualitas. Untuk menciptakan sesuatu yang berkualitas, dibutuhkan pengorbanan dan usaha yang besar. Begitupun  halnya dengan pendidikan, untuk mencapainya dibutuhkan usaha dan dana yang sangat besar demi menciptakan pencapaian atau hasil yang berkualitas. Sebaliknya, suatu bangsa akan hancur jika pendidikannya buruk. Karena dari pendidikanlah lahir generasi muda yang akan bertanggung jawab terhadap negara ini. Negara-negara yang dikenal sebagai negara yang besar dan maju saat ini mampu menjadi seperti kondisi sekarang ini karena keberhasilannya menciptakan pendidikan yang berkualitas bagi warganya. Hasil dari pendidikan yang berkualitas ini membentuk manusia-manusia yang sangat cerdas dan unggul yang memiliki semangat dan motivasi tinggi untuk berkontribusi demi kemajuan bangsanya.

Yang kita rasakan sekarang adalah adanya ketertinggalan dalam kualitas pendidikan. Baik pendidikan formal maupun informal. Dan hasil itu diperoleh setelah kita membandingkannya dengan negara lain. Menurut survei Political and Economic Risk Consultant (PERC), kualitas pendidikan di Indonesia berada pada urutan ke-12 dari 12 negara di Asia. Posisi Indonesia berada di bawah Vietnam. Data yang dilaporkan The World Economic Forum Swedia (2000), Indonesia memiliki daya saing yang rendah, yaitu hanya menduduki urutan ke-37 dari 57 negara yang disurvei di dunia. Dan masih menurut survey dari lembaga yang sama Indonesia hanya berpredikat sebagai follower bukan sebagai pemimpin teknologi dari 53 negara di dunia. Hal ini dapat dijadikan indikator masih rendahnya kualitas pendidikan di Indonesia. Kualitas pendidikan Indonesia yang rendah itu juga ditunjukkan data Balitbang (2003) bahwa dari 146.052 SD di Indonesia ternyata hanya delapan sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Primary Years Program (PYP). Dari 20.918 SMP di Indonesia ternyata juga hanya delapan sekolah yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Middle Years Program (MYP) dan dari 8.036 SMA ternyata hanya tujuh sekolah saja yang mendapat pengakuan dunia dalam kategori The Diploma Program (DP). Pendidikan memang telah menjadi penopang dalam meningkatkan sumber daya manusia Indonesia untuk pembangunan bangsa. Oleh karena itu, kita seharusnya dapat meningkatkan sumber daya manusia Indonesia yang tidak kalah bersaing dengan sumber daya manusia di negara-negara lain.

Siapapun yang mengetahui hal ini tentu saja akan merasa prihatin dengan kondisi bangsanya. Akan timbul pertanyaan disetiap benak, kemanakah anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBN dibawa? Apa yang sudah dilakukan Pemerintah dalam melaksanakan amanat UU Sisdiknas Tahun 2003 dan UUD 1945? Kita tidak dapat menyalahkan Pemerintah sepenuhnya. Pemerintah telah berusaha melaksanakan amanat UU Sisdiknas Tahun 2003 dan UUD 1945, namun dalam pelaksanaannya masih terdapat hal-hal yang tidak diinginkan seperti penerapan visi dan misi Pendidikan Nasional yang tidak terlaksana sebagaimana mestinya. Pemerintah  sangat memperhatikan pendidikan, melalui Departemen Pendidikan Nasional, Pemerintah yakin akan mampu mewujudkan visi besarnya yaitu : Terwujudnya manusia Indonesia yang cerdas, produktif dan berahlak mulia.  Apalagi Visi tersebut diturunkan ke dalam misi-misi yang sangat optimis, yaitu : (1) Menuntaskan wajib belajar pendidikan dasar; (2) Mewujudkan sistem pendidikan efektif, efisien, dan bertanggung jawab; (3) Mewujudkan pendidikan nasional yang merata dan bermutu.

Namun pelaksanaan Pendidikan Nasional bukan hanya merupakan tanggung jawab Pemerintah belaka. Hendaknya untuk menuju Pendidikan Nasional yang berkualitas ini menjadi tanggung jawab semua pihak. Pemerintah, masyarakat, dunia usaha/industri, warga sekolah, LSM dan seluruh stakeholder. Warga masyarakat memiliki peranan yang amat penting dalam pelaksanaan Pendidikan Nasional. Masyarakat dalam konteks ini berperan sebagai subjek atau pelaku pendidikan, tanpa adanya kesadaran masyarakat akan pendidikan, maka negara tidak akan berkembang, kita akan  tergantung pada orang atau negara lain yang jauh lebih berkembang dari kita. Dari masyarakat itu pula dilahirkan anak-anak, generasi baru bangsa ini. Pada dasarnya pendidikan adalah usaha orang tua atau generasi tua untuk  mempersiapkan anak atau generasi mudanya agar nantinya dapat hidup secara mandiri dan mampu melaksanakan tugas-tugas hidupnya secara baik. Sasaran utama pendidikan adalah anak-anak, generasi muda bangsa yang akan menjadi tonggak tengah penopang kehidupan bangsa di masa depan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam usaha pelaksanaan Pendidikan Nasional terdapat banyak hambatan dan masalah yang melingkupinya. Seperti rendahnya kualitas Guru, minimnya partisipasi belajar, penyediaan fasilitas belajar dan mengajar yang jauh dari layak, tidak meratanya kesempatan meraih pendidikan, dan masalah-masalah lainnya. Meningkatkan kualitas pendidikan memang butuh dana yang tidak sedikit. Tetapi, dana juga tidak akan membantu jika kualitas para pendidik di sekolah tidak representatif. Program sertifikasi bagi para guru pada dasarnya diniatkan untuk meningkatkan kinerja para guru. Namun, banyak sekali terjadi sertifikasi ini hanya menjadi formalitas untuk mendapatkan tambahan finansial di tengah minimnya gaji yang didapatkan. Ramai-ramai para guru mengejar program sertifikasi, sehingga tanpa sadar lupa dengan apa sebenarnya substansi dari program sertifikasi itu sendiri yang notabene merupakan upaya Pemerintah untuk menghasilkan tenaga pendidik yang profesional, cakap, terampil, berkompeten, dan siap pakai.

Tidak hanya pada sektor para pendidik atau guru, ketersediaan sarana-sarana pendukung pendidikan juga tidak kalah pentingnya untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Sarana-sarana yang mencakup tersedianya gedung yang layak, alat-alat praktikum, dan seterusnya. Sejauh ini, sekolah-sekolah yang berada di wilayah perkotaan tidak ada masalah serius terkait sarana-sarana pendukung. Sebaliknya, sarana pendidikan untuk sekolah-sekolah yang berada di pedesaan masih mengalami kendala seperti gedung yang sudah tidak layak, fasilitas sekolah yang belum lengkap, seperti tersedianya Laboratorium IPA, Bahasa, dan Laboraturium Komputer. Karena itu, Pemerintah sebaiknya, bahkan seharusnya, secara frontal dan besar-besaran melakukan agresi pendidikan ke wilayah-wilayah di luar perkotaan, di daerah-daerah terpencil, dan daerah-daerah pedalaman yang akses pendidikannya sangat minim.

Di atas semua itu, Pemerintah dengan segala perangkat pengurus pendidikan dari level atas hingga bawah juga harus benar-benar serius mengurusi masalah kualitas ini. Pemerintah jangan lagi hanya fokus pada soal Ujian Nasional, misalnya, karena masalah kualitas pendidikan jauh lebih besar dan kompleks daripada itu. Ujian Nasional hanya salah satu ikhtiar, bukan satu-satunya cara untuk melihat pencapaian kualitas. Ujian Nasional hanya satu bagian dari mata rantai program peningkatan kualitas. Ujian nasional menjadi alat rekam untuk memetakan persoalan pendidikan secara lebih menyeluruh, untuk menentukan road map kebijakan yang lebih jelas dengan arah-arah menuju pencapaian yang diharapkan. Sebagai hanya satu bagian dari mata rantai itu, ujian nasional tidak harus dihapuskan sama sekali, tetapi perlu disempurnakan pelaksanaannya, ditutupi bolong-bolongnya. Pemerintah dan seluruh elemen pendidikan dalam menghadapi pelaksanaan ujian nasional ini mesti kembali duduk untuk membicarakan masalah pendidikan Indonesia ke depannnya.

Berbagai masalah yang muncul di dunia pendidikan mestinya makin melecut pihak-pihak terkait untuk membuat sebuah rekonstruksi atau politik pendidikan yang mengarah pada pencapaian kualitas yang hakiki. Karena itu, dunia pendidikan harus terus direkonstruksi, tidak hanya pada masalah sistem kebijakan, tapi juga model pendidikan yang lebih progresif, kreatif, dan profesional. Untuk itu, setidaknya ada beberapa hal atau langkah-langkah yang harus dilakukan oleh Pemerintah dan warga masyarakat.

Pertama, meningkatkan fungsi dan peran sentral Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) tidak sekadar menentukan standar pendidikan dalam sisi penyelenggaraan Ujian Nasional, tetapi melakukan konsolidasi lebih solid dengan pihak-pihak terkait pendidikan untuk melakukan kontrol kualitas di lembaga-lembaga pendidikan. Pengukuran standar pendidikan juga harus memperhatikan wilayah-wilayah yang akses pendidikan dan kelengkapan sarana pendukung pendidikan masih minim. Jika masalah pemerataan pendidikan yang tidak seimbang antara di perkotaan dan pedalaman/pedesaan, mestinya konsentrasi yang harus dilakukan adalah di wilayah pedalaman dan pedesaan, bukan wilayah yang lainnya.

Kedua, memanfaatkan kemajuan teknologi untuk membantu menutupi lubang-lubang kekurangan yang ada. Hadirnya program Pemerintah yakni internet masuk desa diharapkan mampu membantu masyarakat dalam mengakses informasi dan melalui sarana ini juga diharapkan mampu menjadi sarana akses  pendidikan bagi peserta didik yang menjadi sasaran utama dalam program ini agar dapat memanfaatkan penggunaan teknologi secara cerdas dan bertanggung jawab, utamanya bagi wilayah-wilayah pelosok yang dapat diakses secara gratis. Ini ikhtiar baik yang patut diapresiasi, dan kemajuan yang cukup berarti. Ketersediaan layanan ini menambal lubang minimnya akses pendidikan, dan diharapkan membantu meningkatkan kualitas pendidikan sehingga dapat berkembang kearah yang lebih baik. Sehingga usaha ini bisa dikatakan sebagai sarana untuk mengejar ketertinggalan kita dalam hal akses informasi dari negara-negara maju dan negara-negara berkembang, seperti negara tetangga Malaysia, Singapura, Jepang, Korea, dan negara lainnya.

GambarKualitas pendidikan memang perlu pengukuran-pengukuran tertentu untuk melihat sejauh mana kemajuannya. Tradisi kemajuan memang harus segera digemakan di dunia pendidikan. Kemajuan yang tidak mengawang di angan-angan, tapi tergambar secara kongkret di bumi Indonesia, di alam nyata. Berbagai masalah yang ada di dunia pendidikan, dalam berbagai ragam dan bentuknya, menjadi potret jelas yang menggambarkan bagaimana dunia pendidikan saat ini, di negeri ini. Negara dan aparaturnya, serta masyarakat dan orang-orang yang berkecimpung secara langsung maupun tidak langsung di dunia pendidikan, ditantang untuk  berkomitmen langsung meningkatkan kualitas Pendidikan Nasional di negeri ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s